Jumat, 22 April 2011

Assalamualaikum


Niat

Oleh : Alwi Muhsin

HS.ALWI MUHSIN ALJUFRI
Dari Abu Hurairah; Abdurrahman bin Shakhr , berkata;Aku mendengar Rasulullah bersabda; Sesungguhnya manusia yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid. Dia akan dihadapkan pada nikmat-nikmatnya dan dia mengenalnya. (Allah) berkata, `Apa yang engkau lakukan dengan itu semua?’ `Aku telah berperang demi  Engkau, hingga aku mati syahid. (Allah) berkata, `Engkau bohong! Engkau berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.’ Dan kau telah disebut sebagai pemberani  Kemudian Allah memerintahkan (malaikat) untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim)

Nukilan hadist di atas memberikan pelajaran penting bahwa amalan  seseorang selalu tergantung pada niat.  Menurut Imam Ghazali, niat adalah kemauan hati yang berhubungan dengan perbuatan. Kemauan tersebut tidak muncul begitu saja, namun erat hubungannya dengan sebab dan tujuan yang mendasari lahirnya suatu perbuatan. Orang yang bekerja misalnya, ia bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, dan ia tahu bahwa bekerja adalah salah satu jalan agar kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi. Sebab dan tujuan tersebut menumbuhkan kemauan dalam hatinya yang akhirnya diwujudkan dalam perbuatan nyata yaitu bekerja.

Dalam pelaksanaan ibadah, niat merupakan proses persiapan diri dalam menyatukan hati, pikiran dan badan. Hal ini akan membantu kita untuk melakukan ibadah secara total, baik lahir maupun batin.

Niat adalah ibadah hati yang menghubungkan manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Niat melambangkan pengakuan batin terhadap kekuasaan Allah yang akan membuat ibadah menjadi semata-mata hanya untuk Allah.

Hakekat niat bukan hanya sekadar ucapan “nawaitu” (aku berniat), tetapi merupakan bentuk ketundukan hati sebagai pengejawantahan rasa iman. Ketika kita shalat, tidak hanya sekadar “ushalli” (aku niat shalat), namun niat merupakan pengejawantahan rasa iman bahwa shalat adalah kewajiban seorang muslim kepada Allah. Niat tersebut didasari bahwa shalat adalah jalan ber-munajah untuk mengharapkan ridlo dan mendekatkan diri kepada-Nya.  Keberadaan niat tidak hanya sebatas di awal ibadah, tetapi hadir sepanjang pelaksanaan ibadah. Niat adalah proses pendalaman terhadap makna di balik gerakan lahiriyah ibadah mulai dari awal sampai akhir. Wallahul Musta’an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar