Senin, 31 Oktober 2011


PELAJAR BERKENDARA DIRAZIA 
FOTO: MAL/MOHAMAD HAMZAH
PALU - Anggota Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resort (Polres) Palu, Sulawesi Tengah mendata para pelajar yang terjaring saat melakukan razia terhadap pelajar yang menggunakan kendaraan bermotor di Jalan Hasanudin, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (31/10).Razia itu bertujuan untuk meminimalisir angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh pelajar. Kepada pelajar yang terjaring, polisi memberikan surat teguran untuk tidak mengemudikan kendaraan bermotor sebab belum memenuhi syarat untuk mengemudi dan apabila dilanggar maka akan diberikan sanksi tegas.

Minggu, 30 Oktober 2011

SUARA REDAKSI

Bersatu Bersama Sumpah Pemuda

JUMAT akhir pekan lalu, Bangsa Indonesia merayakan peringatan Sumpah Pemuda ke-83. Ada pelbagai cara dan tingkah dalam merayakannya. Di Palu, dan beberapa tempat di Sulawesi Tengah, peringatan ini dirayakan unjukrasa para mahasiswa dan aktivis pemuda serta LSM. Pelbagai isu diangkat, diantaranya sejumalah isu lokal Sulteng. Mulai konflik Sigi hingga penyelesaian kasus Buol. Besar harapan, momentum Sumpah Pemuda menjadi titik balik penyelesaian persoalan-persoalan itu ke arah yang tepat.
Sumpah Pemuda adalah kontrak sosial atau kontrak politik bersejarah , yang telah dibuat secara khidmat bersama-sama oleh angkatan muda dari berbagai golongan suku, agama, aliran politik. Aspek-aspek penting inilah yang harus kita camkan bersama-sama dalam hati kita masing-masing, ketika dewasa ini negara dan bangsa kita sedang menghadapi berbagai krisis. Sebab, kecenderungan-kecenderungan negatif sudah makin terdengar di sana-sini, yang bisa membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa kita. Sebagai akibat politik pemerintahan Orde Baru, telah muncul permusuhan dan pertentangan suku, agama, dan aliran politik.
Pelaksanaan otonomi daerah telah disalahgunakan oleh para oknum korup dan anti-rakyat di banyak daerah. Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua bahwa Indonesia ini adalah milik kita bersama, tidak peduli dari kalangan agama atau suku yang mana pun, atau dari kalangan aliran politik yang bagaimana pun. Sumpah Pemuda telah meng-ikrarkan bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah-air dan satu bahasa. Tetapi, Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul dihayati atau dipatuhi, kalau semua merasa mendapat perlakuan yang adil.
Sumpah Pemuda hanya bisa betul-betul diakui atau ditaati secara bersama dengan sepenuh hati, kalau semua merasa dihargai setara. Adalah pengkhianatan terhadap Sumpah Pemuda, kalau ada golongan yang mau memaksakan secara sewenang-wenang fahamnya. Sumpah Pemuda mengingatkan kita semua, bahwa di Indonesia tidak boleh ada golongan yang merasa ditindas, dianak-tirikan, dikucilkan, atau diabaikan.
Dalam perjuangan panjang dan berliku-liku untuk merebut kemerdekaan nasional, Sumpah Pemuda telah merupakan senjata yang ampuh bagi banyak golongan. Dan dalam perjuangan panjang ini telah gugur banyak orang, dan banyak pula yang telah mengorbankan sebagian dari hidup mereka dalam penderitaan. Sekarang ini, setelah bangsa kita sudah merdeka, Sumpah Pemuda masih perlu kita kibarkan terus, dalam menghadapi berbagai persoalan nasional maupun internasional.
Kita semua sedang menghadapi berbagai akibat globalisasi ekonomi dan globalisasi komunikasi. Kita juga sedang menghadapi berbagai dampak dari aksi-aksi terorisme, baik yang dilakukan di tingkat nasional maupun internasional. Kita semua perlu tetap mengibarkan panji-panji Sumpah Pemuda, dalam menghadapi berbagai prahara politik, sosial dan ekonomi, yang mungkin akan muncul lebih serius di masa datang.
Dengan semangat dan jiwa asli Sumpah Pemuda yang dicetuskan dalam tahun 1928, kita perlu berusaha bersama-sama untuk menjadikan Indonesia yang berpenduduk 238 juta orang ini sebagai milik kita bersama. Indonesia adalah untuk semua golongan, yang merupakan berbagai komponen bangsa. 

ASSALAMU ALAIKUM 

Habib Saggaf
Tak Mesti Menyerah

Perjalanan mengusung risalah  dakwah  tidak selamanya berjalan dengan penuh kemulusan dan kelancaran. Ada kalanya menghadang berbagai bentuk rintangan dan ujian yang di hadapi seorang aktifis gerakan Islam.
Rintangan itu biasanya datang dari rongrongan keluarga anak, isteri, suami, ayah atau ibu bisa menjadi aspirasi atau penambah semangat berdakwah. Tetapi di saat yang sama mereka juga dapat menjadi batu sandungan . Mereka berpotensi memalingkan garis dakwah, mengurangi intensitas interaksi seseorang dengan dakwah atau bahkan menghentikan sama sekali gerak dakwah seorang pembawa  risalah Allah ini.
Bisikan, tuntutan, atau ambisi-ambisi keluarga boleh jadi menyebabkan seseorang berat kaki untuk melangkah kaki untuk melaksanakan program-program dakwah. Begitu juga keadaan keluarga baik dalam sisi ekonomi, kesehatan, dan sebagainya dapat juga menjadi faktor penghambat keterlibatan seseorang dalam aktifitas dakwah.
Pada saat perang Tabuk, ada sahabat yang nyaris tidak turut serta dalam jihad karena ingin menikmati kehangatan bersama isterinya. Akan tetapi ia kemudian tersadar akan kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya dalam perjuangan. Untuk Allah swt. mengingatkan kita:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64:14-15)
Batu sandungan dakwah bisa juga datang dari sesama Muslim. Bentuknya, semisal sikap iri dan dengki atas keberhasilan yang telah dicapai  oleh para penggiat dakwah.  Kata ‘batu sandungan’ sengaja saya beri tanda kutip karena hal itu tidak selalu berakibat buruk bagi orang yang didengki. Sebaliknya bagi si pendengki belum tentu menjadi hal yang produktif dan mengantarkan kepada apa yang menjadi keinginannya.
Hadangan lai adalah  Kekejian, dan Makar Orang-Orang Kafir. Sejak awal sejarah dakwah yang digulirkan oleh nabi-nabi sebelum Rasulullah saw., orang-orang kafir selalu berdiri sebagai penghadang dakwah. Untuk menghentikan laju dakwah, mereka melakukan berbagai upaya dari mulai rayuan hingga pembunuhan. Dalam Quran Allah swt. banyak mengingatkan kita, para da’i tentang makar orang-orang kafir ini. Salah satu hikmahnya adalah agar kita senantiasa memiliki kesiapan mental saat menghadapinya. Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. (QS. 34:34)
Di ayat yang lain dinyatakan, Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami” (QS. 36:18)
Tentu banyak jenis dan bentuk rintangan dan ujian di jalan dakwah. Karenanya, apabila ingin berdakwah namun tidak mau berhadapan dengan kesulitan, sangatlah tidak mungkin. Wallahul Muta’an.

Mutiara Hadist :
Rasulullah SAW bersabda:  “Barangsiapa yang bisa menjamin(keselamatan) antara dua rahangnya (lisan) dan dua kakinya (faraj), maka aku menjamin baginya surga” (HR. Bukhari).

Sabtu, 29 Oktober 2011

SUARA REDAKSI
Saudara Bukan Dilotre

Wakil Rakyat, Saudara dipilih bukan dilotre. Inilah ungkapan lagu  Iwan Fals yang membawa pesan moral terhadap   sosok-sosok pembawa amanat suara negeri ini.  Tapi kini wakil rakyat kita itu  tak benar-benar kumpulan orang hebat. Wakil Rakyat, lebih banyak diam ketimbang bicara dengan lantang. Wakil Rakyat, yang tertidur pulas justru di saat sidang nasib kaum papa tengah diulas. Wakil Rakyat, yang tak berani membuktikan kabar burung  adanya korupsi di gedung wanita.  Wakil rakyat  Provinsi yang  hanya berani memangil Kapolda untuk urusan mobil rental. Tapi tak berani memanggil Kapolda untuk urusan kasus tragedy kemanusiaan seperti kasus Buol dan Tiaka.
Wakil rakyat kita di DPRD Kota Idem Dito. Mereka melakukan debat kusir , saling ejek dan sumpah serapah. Mereka saling gugat untuk sebuah kekuasaan. Ini sebuah ironi, mencederai nilai demokrasi. Demokrasi kita yang sifatnya mufakat dipinggirkan.  
Wakil Rakyat. Dua kata ini sekarang seolah menjadi barisan kalimat yang klise dan berkonotasi negatif. Wakil Rakyat bahkan sering menjadi bahan cibiran. Lantaran, sebagian dari mereka menyoreng institusi dengan selalu bikin ulah dan berbuat tak senonoh.

Alih-alih memperbaiki citra di era reformasi setelah dikecam habis di masa Orde Baru, Wakil Rakyat sekarang justru makin mencederai amanat agung yang diberikan rakyat. Bukan hanya karena sering bolos dan dicap tidak produktif. Itu cerita klasik. Tapi sekarang, aneh-aneh saja yang dimintanya. Aneh dan selalu berujung dengan duit, duit, dan duit. Dan group Band Slank pun  mencatat itu.

Permintaan dana aspirasi disepakati. Yang katanya, untuk kepentingan konstituen di daerah. Permintaan yang aneh, karena ternyata kedekatan antara rakyat dan wakilnya berjarak secara ideologi, dan mesti disambangi dari waktu ke waktu biar bergeming, tetap setia.

Inilah fakta ironi wakil rakyat kita. Pertama, para Wakil Rakyat rupanya memang tidak dekat dengan rakyatnya. Sebagai Wakil Rakyat seharusnya pro aktif menjemput bola, mencari dan mengumpulkan aspirasi, seperti ketika mereka berkampanye dulu, supaya rakyat memilihnya. Toh, mereka juga memiliki waktu khusus yang disebut masa reses. Saat ketika mereka harus turun ke daerah pemilihan masing-masing, menghampiri konstituennya, dan menyerap aspirasi dari sana. Sekarang tentu menjadi pertanyaan, apakah mereka terpilih karena betul-betul murni suara rakyat yang menghendakinya, atau karena kolusi politik semata?

Kedua, muncul kesan bahwa Wakil Rakyat ini memang ingin mengeruk uang rakyat. Kalaupun mereka betul-betul ingin mendirikan sebuah kantor penyerap aspirasi rakyat—atau apapun namanya, ya seharusnya jangan menggunakan uang rakyat lagi. Para Wakil Rakyat ini bukan bekerja gratisan. Gaji mereka juga tidak sedikit. Belum lagi ada yang namanya dana reses dan sebagainya.

Menjadi Wakil Rakyat, mestinya mempunyai semangat memperjuangkan nasib rakyatnya dan menyejahterakan rakyatnya. Bukan memperjuangkan kantongnya pribadi dan menyejahterakan dirinya sendiri.

Di hati dan lidahmu kami berharap, wahai Wakil Rakyat. Suara kami tolong dengar lalu sampaikan, wahai Wakil Rakyat. Karena di kantong safarimu kami titipkan, wahai Wakil Rakyat. Masa depan kami, dan negeri ini... Semoga saja potret lirik ala Iwan Fals masih mampu menggugah hati nurani Wakil Rakyat, untuk lebih mengerti tugas dan tanggung jawab yang diemban. Semoga saja...

NORMALISASI SUNGAI TERTUNDA
Warga Dolo Selatan Resah

Kondisi Perkebunan Kelapa dan Coklat, Warga Desa Bulubete.






















PALU  – Belum dikerjakannya proyek normalisasi Sungai Suluri pasca banjir di Desa Bulubete membuat warga desa tersebut resah. Mereka bertekad, jika hingga bulan November tidak ada kejelasan realisasi pekerjaan tersebut, mereka akan mendatangi Kantor DPRD dan PU Provinsi Sulteng untuk meminta paksa kejelasan pekerjaan normalisasi sungai tersebut.
Sebagaimana diketahui, pada APBD Perubahan Tahun 2011, Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan DPRD  Sulteng sudah menyetujui pengadaan anggaran normalisasi sungai sebesar Rp1 miliar. Namun hingga kini, pihak PU belum juga melaksanakan pekerjaan tersebut.
Banjir bandang yang menimpa, Desa Baluase, Bulubete dan Walatan, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Banjir disebabkan meluapnya sungai Saluri yang mengalir di desa Bulubete dan Walatan, serta sungai Palindo di desa Baluase.
Gasim K Sanulibu, salah satu warga Desa Bulubete mengatakan, dirinya kecewa dan tidak percaya lagi dengan pemerintah. Gasim datang bersama rekan-rekannya me nyampaikan keluhan tersebut kepada wartawa. Rombongan tersebut mengatasnamakan Polibu tori Dolo Selatan.
Gasim menuuturkan, sebagian perkebunan masyarakat Bulubete tidak bisa dimanfaatkan lagi, sehingga petani mengalami kerugian sebesar Rp3,5 milyar.
Warga desa lainnya, Muchlis mengatakan, bulan September lalu, lokasi banjir yang sudah mengaliri perkebunan warga Desa Bulubete, bahkan sampai merendam sebagian perkebunan coklat dan pohon kelapa, sudah ditinjau oleh anggota DPRD Provinsi Sulteng.
 Padahal kami sudah dijanji saat kunjungan itu, namun  tidak pernah ditepati,” tandasnya.  (Media Alkhairaat) edisi, Sabtu. 29/10/2011
Belajar dari Nyamuk
Zainal Abidin
Nyamuk, Ini bintang yang taka sing bagi kita. Hewan kecil itu memang nakal karena selalu mengganggu manusia yang terlelap tidur di malam hari. Namun adakah yang pernah berpikir bahwa ternyata seekor makhluk kecil yang seringkali merepotkan manusia itu merupakan suatu contoh akan kesempurnaan desain dalam penciptaan?
Sejak ia bertelur, nyamuk sudah menunjukkan kehebatannya. Dia dengan sendirinya bertelur dalam jumlah ratusan butir yang kesemuanya menyatu hingga menyerupai bentuk sampan. Sampan, karena memang telur tersebut diletakkan di atas permukaan air dan harus dapat mengapung. Seandainya ia bertelur satu persatu, tentunya telur itu akan tenggelam oleh riak air yang kecil sekalipun.
Tentu kita semua tahu, sang nyamuk mengawali kehidupannya dengan hidup di bawah permukaan air. Untuk bernapas ia menggunakan alat menyerupai pipa “snorkel” (biasa digunakan penyelam) yang berada di ujung tubuhnya. Dengan demikian ia dapat menghirup udara di atas permukaan air dan terus melangsungkan siklus hidupnya. Namun tantangan yang dihadapi belum berhenti.
Untuk keluar dari air lalu terbang, juga memerlukan usaha yang tidak mudah, karena bila saja tubuhnya basah, maka ia tidak akan dapat terbang! Bayangkan, ternyata di ujung kakinya terdapat suatu senyawa kimia yang mampu meningkatkan tegangan permukaan air. Sehingga ketika keluar dari kepompongnya dan berdiri di atas permukaan air dengan kaki-kakinya, ia tidak terperosok dan tidak tenggelam.
Tidak sampai di situ. Agar nyamuk betina dapat menghisap darah, ia harus mampu mengenali lokasi pembuluh darah manusia di kegelapan malam. Untuk ini ia telah dilengkapi dengan sistem pengindraan inframerah yang mampu menemukan lokasi pembuluh darah berdasarkan suhu tubuh.
Untuk bisa menembus kulit manusia sehingga mudah dalam menyedot darahnya, ia juga memiliki organ khusus yang disiapkan oleh Penciptanya. Organ itu berfungsi layaknya gergaji yang menggergaji kulit kita sehingga sobek. Sebab kulit manusia bagaikan kulit kayu yang tebal dan keras bagi nyamuk, hewan berukuran teramat kecil dibanding tubuh manusia. Juga, agar darah yang keluar tidak membeku, maka nyamuk juga telah menggunakan suatu enzim yang mencegah pembekuan darah.

Perhatikan, walau si kecil nyamuk tampak demikian jenius, namun ia tetaplah seekor nyamuk yang tak dapat berpikir untuk memperbaiki kualitas hidup. Ia tetaplah bukan profesor kimia maupun fisika atau bahkan dokter spesialis tranfusi darah sebelum ia dapat melakukan “tugasnya” keluar dari air untuk terbang dan menghisap darah manusia. Ia tetaplah seekor makhluk kecil yang diciptakan oleh Dzat Yang Maha Pencipta sebagai perumpamaan bagi kita agar mau berpikir.
 
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orangorang yang fasik (QS. Al Baqarah, 2:26). Wallahul Musta’an.
 
Mutiara hadist
Jabir Ibnu Abdullah ra telah mengatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap anak-anak kalian; janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap pelayan kalian; dan janganlah pula kalian mendoakan kemusnahan terhadap harta benda kalian agar jangan sampai kalian menjumpai suatu saat dari Allah yang di dalamnya semua permintaan diberi, kemudian (doa) kalian diperkenankan.”—HR Muslim.

KONFLIK SIGI
Wakapolda Jamin Penembak  Warga Terungkap
                                               
Wakapolda Sulteng Kombes Pol Ari Dono Sukmanto
Saat menerumah pendemo, di kantor Gubernur Sulteng, Jum'at. 29/10. (FOTO : MAL/Odink)
PALU – Wakapolda Sulawesi Tengah Kombes Pol Ari Dono Sukmanto menjamin pelaku penembakan yang mengakibatkan tewasnya  Erik alias Heri saat terjadi bentrokan antara warga Desa Pakuli, Kecamatan Gumbasa dengan Desa Bangga, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi pada 9 Oktober lalu.
    "Untuk kasus Pakuli saya jamin. Proyektil sudah kita dapat, tinggal mencari siapa (oknum polisi) yang bertanggung jawab. Itu pelurunya siapa," kata Wakapolda Ari Dono menanggapi tuntutan ratusan demonstran mahasiswa dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kantor Gubernur Sulteng Jalan Sam Ratulangi, Jumat.
    Selain proyektil, Wakapolda Ari Dono juga menyebutkan, polisi juga telah memegang bukti lain yakni hasil visum korban dari insiden penembakan tersebut. Hasil visum itu untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan dalam kasus tersebut.
    "Visum itu juga membuktikan bahwa korban meninggal dunia karena tertembak. Itu cukup nanti dibuktikan di persidangan," kata orang kedua di Polda Sulteng itu.
    Ia mengatakan, saat ini pihak Profesi dan Pengamanan Polda Sulteng masih terus memeriksa para anggota Polri yang terlibat dalam pengamanan saat bentrokan antarwarga di Sigi.     Wakapolda juga mengaku tidak setuju terjadinya segala bentuk kekerasan, apalagi sampai menyakiti masyarakat.

Sementara itu, masyarakat Desa Pakuli polisi menggelar kembali olah Tempat Kejadian Perkara. Olah TKP yang dimaksud, merupakan proses penyelidikan aparat kepolisian pasca penembakan Erik yang dilakukan oknum polisi.

Masyarakat merasa, Olah TKP yang dilakukan tidak transparan karena masyarakat merasa tidak dilibatkan. Polisi hanya melibatkan sejumlah orang bersama aparat desa setempat. Permintaan tersebut diungkapkan sejumlah warga Pakuli di hadapan Wakapolda Sulteng, Kombespol Ari Dono. Sejumlah warga yang mengatasnamakan Barisan Rakyat Menggugat (BRM) itu mendatangi Mapolda Sulteng dan menyampaikan sejumlah tuntutan terkait proses penyelesaian kasus yang teradi beberapa waktu lalu.
“Kami tidak pernah dilibatkan dalam Olah TKP, hanya sebagian saja yang diikutkan. Makanya kami meminta agar pihak kepolisian mengelar kembali Olah TKP tersebut,” kata Wakil Koordinator Lapangan (Wakorlap), Asman.
Atas hal itu, Wakapolda Sulteng, Ari Dono memberi izin kepada perwakilan warga yang ingin melihat hasil visum tersebut.
“Sebenarnya dalam aturan, yang boleh melihat langsung hasil visum itu hanya orang tua korban atau kuasa hukumnya.,” kata Wakapolda sambil menghubungi dokter yang melakukan visum terhadap korban.

Sebelum mendatangi Mapolda Sulteng, massa BRM menggelar aksi serupa di depan Kantor Bupati Sigi. (Media Alkhairaat) Edisi, Sabtu. 29/10/2011