Selasa, 19 April 2011

Suara REDAKSI


Refleksi Kita Terhadap  UN 
RIBUAN anak didik kita  dari kalangan sekolah lanjutan tingkat atas mulai kemarin hingga hari-hari mendepan sedang bertempur meraih hasil terbaik dalam Ujian Nasional.  Kita berharap UN bukanlah arena untuk mengundi nasib dan menjudikan nasib anak siswa kita lantaran tak bisa mengisi lembaran soal ujian.
Sangat masuk akal kalau  masyarakat  kini tak mengharapkan adanya banjir air mata  pada setrap pengumunan UN. Ribuan  siswa meraung-raung bahkan ada yang pingsan karena tak lulus ujian.  Memang than lalu kurang menggembirakan , untuk tidak dikatakan buruk.  Maka itu kejadian yang lalu tentu berlalu dan mari tinggalkan kegagalan masa lalu untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Sebagai kegiatan rutinitas, semestinya para pemangku kebijakan dan komponen terkait pembangunan bidang pendidikan tentu menyadari  tentang berbagai kelemahan selama ini. Kelemahan- kelemahan itu dijadikan bahan refleksi untuk menetapkan langkah yang lebih mantap demi meningkatkan persentasi hasil UN.  Pendidikan yang bermutu  menghasilkan lulusan yang tidak hanya berilmu dan berketerampilan, tetapi juga mandiri dan berkarakter.
Rasanya semua sepakat bahwa pendidikan bukan sekadar urusan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Meski demikian, dinas ini tak boleh menjadikan ini sebagai alasan untuk tidak berbuat maksimal demi peningtakan kualitas pendidikan. Juga tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab dinas ini terhadap berbagai persoalan yang mengakibatkan Sulawesi Tengah  dalam beberapa tahun terakhir, terus memperoleh "nilai buruk" di setiap musim UN.
Kualitas pendidikan ditentukan oleh kematangan interaksi beberapa pemangku kepentingan; sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintah. Masih sering terjadi di setiap musim UN, terjadi saling menyalahkan.
Anak sekolah tidak lulus, orangtua dan masyarakat menuding sekolah (guru) sebagai biangnya. Pihak sekolah juga menuding orangtua sebagai penyebab kegagalan siswa.  "Tradisi cari kambing hitam" ini harus dihentikan. Kualitas interaksi antar komponen-komponen tersebut harus terus ditingkatkan agar di setiap musim UN jangan muncul lagi momok kambing hitam itu.
Pemerintah pun demikian. Performa dan rapor pemerintah daerah ditentukan oleh persentase UN. Persentase bagus (tinggi) artinya mutu pendidikan baik (meski untuk ini masih debatable karena mutu pendidikan tak hanya ditentukan persentase kelulusan.
Persentase buruk artinya mutu pendidikan buruk. Maka yang terjadi kemudian adalah kejar target. Anak-anak jadi korban. Begitu masuk kelas III SLTP/SLTA, anak- anak "dipaksa" menerima beban tambahan pelajaran, siang maupun sore hari. Guru-guru ramai-ramai memberi les tambahan. Mata pelajaran-mata pelajaran UN "dikebut", bila perlu soal ujian dan jawabannya dihafal luar kepala oleh siswa. Orangtua merogoh biaya tambahan untuk les sore, jajan anak dan lain-lain. Buku- buku panduan guru maupun siswa silih berganti.
Hasil UN nanti adalah cermin bagi sekolah, bagi siswa, guru, kepala Dinas PPO, bupati/walikota/gubernur, dan masyarakat. Sehingga tidak lagi mencari kambing hitam atas kegagalan dan tak ada pahlawan kesiangan di tengah tempik sorak keberhasilan. Semoga. *


Tidak ada komentar:

Posting Komentar