Selasa, 10 Mei 2011

DUNIA ISLAM


MUZAKIR MASAHIDO (Guru MTs Alkhairaat Kalukubula)
Hanya Ikhlas yang Bisa Menghibur

25 tahun yang silam, Muzakir Masahido, tamat dari SMA Alkhairaat Kalukubula. Ketika itu ia merantau ke Gorontalo, dengan niat ingin masuk ABRI (TNI). Namun, dikarenakan ada keterlambatan, cita-citanya itu pupus.
Ia kembali ke Kalukubula, desanya. Tidak lama di Kalukubula, ia ditawari oleh Ustad Kasman Djidin untuk menjadi tenaga teknis di MTs Alkhairaat Desa Kalukubula. Namun karena keterbatasan guru ia akhirnya dijadikan sebagai tenaga pengajar, IPS saat itu.
“Saya pertama masih tenaga administrasi 1 semester. Karena kekurangan guru, saya dipercayakan jadi guru IPS saat itu. Gaji kita masih Rp7500,” kata dia kepada Media Alkhairaat, Sabtu (7/5).
Selama ia menjadi guru, ia memang terkesan dengan sikap, disiplin dan tegas. Menurutnya, banyak orang tua kadang protes dengannya. Namun begitulah disiplin yang ditanamkannya. Dan itu juga dipahami oleh pimpinan Alkhairaat di Kalukubula.
“Tidak ada guru yang ingin menganiaya anak didiknya. Ini hanya untuk merubah kelakuan anak yang sudah berlebihan. Namun dengan aturan negara sekarang kita tidak bisa lagi sangat keras dengan anak. Tapi saya rasakan betul kita bingung bagaimana mengatur tingkah laku anak-anak saat ini,” imbuhnya.
Muzakir mengaku, hal yang paling membanggakan padanya adalah melihat anak didiknya sukses. Apalagi  anak didiknya yang telah jadi Polisi atau TNI. Bagaimana tidak, dasar-dasar disiplin dan bela negara, ialah yang menanamkannya, dalam kepramukaan yang dibinanya.
Muzakir adalah Pembina awal di gugus depan MTs Alkhairaat Kalukubula. Sejak awal dia membina pramuka MTs Alkhairaat Kalukubula sangat berprestasi di setiap moment kompitisi madrasah. Hingga berkali-kali menggondol juara umum.
Atas pengabdian itu,  pada pengajuan database 2005, namanya diajukan bersama guru non PNS lainnya di MTs itu. Ia tentunya berharap ada kenaikan jabatan kepegawaian.
Namun, tak dinyana, entah bagaimana masalah sesungguhnya. Dari semua guru yang diajukan oleh MTs Alkhairaat Kalukubula, namanya hilang di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD).
“Guru-guru yang lain sudah diangkat. Sementara saya dengan pak Kasman setelah dicek nama kami ternyata tidak ada. Padahal kami yakin kami menyerahkan nama itu di bundel yang kami serahkan. Bundel itu diikat. Tapi tidak tau bagaimana ceritanya nama kami hilang,” katanya.
Pria 45 tahun ini mengaku, sedih dan kecewa ketika mendengar itu. Bagaimana tidak, ia bersama Kasman Djidin guru yang juga mengabdi selama 20-an tahun itu, masih juga berstatus honorer. Sementara mereka yang jauh mereka lampaui waktu pengabdiannya sudah berstatus PNS.
Hanya keikhlasan dan kecintaan kepada Alkhairaatnya menghibur mereka. Hanya saja ia berharap, ada sedikit kemauan dari pemerintah daerah, kementerian agama ataupun PB Alkhairaat peduli pada nasib mereka yang telah lama mengabdi.
“Inpassing misalnya, hanya ditujukan kepada yang S1. Kalau bisa pemda, Kemenag atau PB Alkhairaat bisa bantu kami untuk menyelesaikan studi. Saya Kuliah di Unisa, tapi saat saya mau KKN kita tidak punya biaya akhirnya ditunda terus. Kemarin, pada tanggal 2 Mei, salah satu guru honorer di Sigi diberikan tunjangan karena pengabdiannya selama 20 tahun. Mungkin sebaiknya Depag juga begitu,” akunya. (NANANG)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar