Minggu, 17 April 2011

TEROPONG


Membaca Langkah Kuda Golkar Sulteng

Calon gubernur dari Partai Golongan Karya (Golkar) kalah telak pada pemilihan gubernur Sulawesi Tengah, periode 2011-2016.  Prof (Em) Aminuddin  Ponulele –Luciana Is Baculu yang digadang-gadang akan menjadi pemenang hanya sebatas “mimpi”. Pasca kekalahan itu, Golkar Sulawesi Tengah akan melakukan pembersihan terhadap kader yang dianggap “nyebrang” ke kandidat lain. Siapa-siapa pentolan Golkar yang bakal terkena “badai tsunami”ala Golkar Sulteng  ini?

Ruang rapat kantor Golkar Sulawesi Tengah di jalan Moh Yamin mendadak sunyi. Kesibukan pentolan partai pohon beringin pada siang Rabu (6/4)  pekan lalu mendadak berhenti. Wakil Sekretaris DPD Golkar Sulteng, Iqbal Andi Magga, membentur-benturkan kepalanya ke kedua tangannya. Raut wajahnya tak bersemangat. “Ini ada yang salah, kenapa tak ada Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang kita menangkan,” ujarnya.

Kekecewaaan Iqbal boleh jadi mewakili ribuan  kader Golkar yang ada di daerah ini. Maklum saja partai Golkar  yang sudah punya segudang pengalaman dalam  kancah perpolitikan dipecundangi partai yang masih bau “kencur” Gerindra dan Hanura. Golkar kalah telak pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) gubernur. Kekalahan ini sedikit terhibur dengan menangnya calon Golkar di dua kabupaten Donggala dan Buol.
 
Di Palu? Ini yang menyakitkan tak ada satu pun TPS yang dimenangkan calon Golkar. Termasuk  di  (TPS 18) Jalan Lasoso Kelurahan Lere Kecamatan Palu Barat, tepatnya TPS tempat Professor (Em). Aminuddin Ponulele mencoblos menyumbangkan suaranya. Siapa yang dia coblos?? Tentunya dirinya sendiri karena dia adalah salah satu calon diantara lima calon gubernur Sulteng yang berkompetisi merebut simpati rakyat.  “Ini yang menyakitkan kita menjadi ururtan ketiga di Palu,” keluh Iqbal.


Kekalahan telak pasangan Aminuddin – Luciana yang bertagline ADIL ini memang diluar perkiraan. Masalahnya, genderang perang telah ditabuh, membahana di antero Sulteng lewat orasi kampanye dan deklarasi di semua kabupaten/kota. Ini menunjukan, betapa mantapnya sang petarung untuk berlaga. Dari beberapa aspek, sangat wajar jika Professor Aminuddin menyatakan siap.

Menggandeng sosok srikandi adalah jualan paling laris dan strategi politik mumpuni untuk dipentaskan dalam arena Pilgub ini. Hanya Aminuddinlah satu-satunya petarung yang memboyong perwakilan perempuan. Artinya, representase kesetaraan gender telah dipenuhinya, belum lagi pangalaman politik, dan lamanya bergelut di dunia birokrasi serta titik puncak gelar keilmuan yang disandangnya 

Tapi apa yang terjadi, tepat pukul 13.00 saat petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS tersebut mulai melakukan penghitungan suara. Di TPS yang tak seberapa jauh dari rumah Aminuddin, justru suara yang diperoleh sang professor kalah jauh dibanding perolehan suara milik kandidat gubernur/wakil gubernur nomor urut 03, Longki Djanggola-Sudarto (Longki’S).
Hasil hitungan KPPS di TPS 18 menyebutkan, pasangan ADIL hanya meraih 46 suara, terlampau jauh dari pasangan Longki’S yang meraih 106 suara.
Sebuah hal yang mungkin agak aneh jika harus menilik kenyataan itu. Di kandang sendiri, di lingkungan tetangga terdekat, di antara kerabat dan sahabat, dia kalah telak dibanding lawan yang bermukim jauh di Parigi Moutong sana. Otomatis, dikandang kalah, yang jauhpun tentunya demikian.
Tak perlu melihat dulu perolehan suara di kabupaten lain, di Kota Palu saja, dengan basis massa Golkar yang bejibun, dinahkodai Wakil Walikota Palu, Andi Mulhanan Tombolotutu sebagai Ketua DPD-nya. Dikomandoi Walikota Palu, Rusdy Mastura sebagai Ketua Tim Pemenangan, toh ADIL kalah telak dari Longki’S. Meskipun kenyataan ini masih berdasarkan rekapitulasi sementara yang dilakukan KPU Sulteng beberapa waktu lalu.

Kandidat Minim Amunisi?

Dari kacamata Sekretaris DPD Golkar Sulteng, Zainal Abidin Ishak, justru kekalahan ADIL karena minimnya dukungan amunisi dari kandidat yang bertarung. Hal itu kata dia kemungkinan besar mempengaruhi kinerja-kinerja personil.
“Di daerah yang kita andalkan untuk menang seperti Tojo Una-Una karena bupati dan Ketua DPRD orang Golkar, ternyata kalah juga,” katanya.
Di Tojo Una-Una, bupati Damsik Ladjalani telah dua periode memenangkan kompetisi Pemilihan Bupati (Pilbup). Dia menang karena usungan Golkar.
“Harus di evaluasi mengapa justru di daerah yang diandalkan seperti Tojo Una-Una mengalami kekalahan. Apakah itu manajemen yang salah atau ada hal-hal lain yang mempengaruhi,” ujarnya.
Pernyataan-pernyataan tersebut akhirnya mengantar Zainal Abidin untuk berkata pasrah. “Jika tidak ada masalah dan KPU telah menetapkan, maka kita “Bismillah” saja, siapapun pemenangnya,” singkatnya.
“Untuk empat kabupaten seperti Poso, Tolitoli, Banggai Kepulauan (Bangkep) dan Parigi Moutong mungkin kita bisa maklumi karena pimpinan di daerah tersebut bukan orang Golkar. Tapi bagaimana dengan daerah lainnya yang pemimpinanya berasal dari Golkar. Ada apa ini?,” itu penggalan pertanyaan kritis yang terlontar dari mulut Ikbal Andi Magga.
Dia mencontohkan daerah yang memiliki basis massa besar dengan landasan kosong satu daerah tersebut adalah orang Golkar. Di Morowali kata dia, Bupati daerah tersebut adalah Ketua  Kosgoro (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong). “Itu artinya, dia (bupati Morowali) adalah bagian dari Golkar,” katanya.
Belum lagi di Kabupaten Banggai. Meski bupatinya bukan berasal dari Golkar, namun ketua DPRD daerah tersebut adalah pengurus sekaligus Ketua DPD Golkar Kabupaten Banggai.
“Kemenangan Longki hanya persoalan “Lucky” saja. Kami sudah berusaha bekerja maksimal di semua tingkatan. Tim juga solid,” itu alasan Andi Mulhanan Tobolotutu atas kekalahan ADIL.
Dia menambahkan, penciteraan juga bukan merupakan penyebab kekalahan ADIL. ”Masalahnya adalah pilihan masyarakat. Longki unggul, saya kira hanya persoalan itu saja,” tambahnya.
“Kita semua sudah bekerja secara keseluruhan dan maksimal. Kekalahan ADIL adalah takdir,” itu tanggapan Sekretaris DPD Golkar Kota Palu, Erman Lakuana.
Atas dinamika-dinamika pesta demokrasi yang telah melewati sejumlah tahapan ini, kandidat Doktor kebijakan publik asal Universitas Tadulako (Untad), Irwan Waris mengatakan, hampir semua tahapan proses pemenangan dijalankan secara baik oleh tim pemenangan Longki’s. Mulai dari pencitraan hingga kampanye, tim selalu bekerja keras dengan tetap mengacu pada hasil survei. Kekuatan finansial dan penciteraan yang telah meluas jauh hari sebelumnya juga menjadi pendongkrak kemenangan Longki’S.

Yang Mengevaluasi dan Dievaluasi

Sebagai kader besutan Golkar yang bermarkas di DPD I (istilah Golkar pra Otonomi Daerah), juga sebagai kader yang besar dan cerdas di naungan Golkar tentunya Ikbal Andi Magga merasa ada hal aneh yang membuatnya terpaksa bertanya mengapa ADIL harus kalah, meskipun itu pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.
Apa buntut dari rasa penasaran Ikbal Andi Magga. Dengan pasti dia menyatakan, sebagai unsur pengurus yang menjabat bidang organisasi Partai Golkar, pihaknya segera mengadakan evaluasi secara keseluruhan di semua tingkatan pengurus. Evaluasi akan berlaku baik di internal Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Sulteng, DPD kabupaten/kota, hingga di semua pengurus di tingkatan desa.
Katanya, evaluasi tersebut akan melihat sejauh apa kerja-kerja para kader yang notabene merupakan pimpinan-pimpinan di daerah.
“Ini untuk melihat dimana daerah yang tidak kerja, dalam artian Pilkada ini bukan merupakan hal penting bagi mereka,” tegas Eki, sapaan wakil sekretaris DPD Golkar Sulteng itu .
Dalam sebuah kepartaian, pihak yang tidak bekerja biasanya adalah orang yang acuh tak acuh, bermasa bodoh atau bahkan telah terkontaminasi dengan kandidat lain, idealisme digadaikan pada orang yang mungkin memiliki kemampuan finansial besar. Benar adanya pernyataan Eki tersebut, ”Pilkada ini mungkin bukan hal yang penting bagi mereka”.
Sejauh ini kata dia, tim survei dari Golkar telah melaporkan daerah yang memang tidak bekerja untuk memenangkan ADIL. Padahal kata Eki sapaannya, Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Koordinasi (Rakor) yang pernah digelar telah maksimal dilakukan.
“Mungkin ada yang kurang dari sistem yang telah terbangun. Raker dan Rakor tersebut sudah menyimpulkan strategi-strategi pemenangan. Salah satu strategi tersebut adalah seperti menurunkan anggota DPRD turun ke Dapil masing-masing untuk melakukan penguatan-penguatan,” pungkasnya.
Anggota DPRD Sulteng dari fraksi Golkar, Busta Kamindang menyatakan, evaluasi tersebut memang harus dilakukan, bahkan kata dia, pihak pusat sendiri yang akan turun langsung melakukan itu.
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar sekaligus Koordinator Wilayah Partai Golkar Sulteng, Muhidin Mohamad Said mengatakan, pihaknya akan melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh kepada para kader di semua tingkatan. Konsolidasi tersebut juga menyangkut evaluasi pasca pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulteng.
“Konsolidasi menyeluruh dalam artian seluruh Indonesia dalam rangka menghadapi Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 mendatang. Kebetulan juga tahun ini adalah tahun kaderisasi bagi Golkar. Jadi konsolidasi ini memuat evaluasi kepada para kader dalam rangka meningkatkan dan menyatukan semangat kinerja partai,” kata Muhidin.
Kata dia, untuk Sulteng sendiri juga akan memuat evaluasi terkait kekalahan pasangan ADIL. Evaluasi bertujuan melihat dimana titik lemah dan apa yang menjadi hambatan.
“Seluruh DPD II (Dewan Pimpinan Daerah Golkar kabupaten/kota) melaporkan telah berbuat maksimal, dan harus diakui karena memang tidak di setiap daerah kita kalah. Jadi kalah menang tetap ada evaluasi. Bagi yang menang akan ditingkatkan lagi dan yang kalah, apa hambatannya,” ujar wakil ketua Komisi V DPR RI itu. Daerah yang berhasil memenangkan pasangan ADIL adalah Kabupaten Donggala dan Buol.
Jika nanti ditemukan ada daerah yang tidak bekerja memenangkan ADIL, akan dilihat lagi, faktor apa yang membuatnya tidak bekerja.
Terkait itu, Tony sapaan akrab Ketua DPD Golkar Kota Palu itu menanggapi hal tersebut sebagai sebuah langkah positif yang harus dilakukan Golkar. Namun dia mengaku belum mengetehui item-item apa saja yang bakal dievaluasi nanti.
“Rencana itu kami belum dengar, namun bagi kami hal itu adalah hal positif yang harus direspon pengurus di semua tingkatan. Ini untuk mengetahui dimana sebenarnya kelemahan kita dan apa penyebab dari kekalahan ADIL. Jangankan itu, di Golkar sendiri juga setiap tahun melakukan evaluasi,” katanya.
Sementara Ketua DPD Golkar Kabupaten Sigi, Muhammad Rizal Incenai mengatakan, evaluasi tersebut memang harus dilakukan, dan itu adalah hal positif.
”Menang saja harus dievaluasi, apalagi kalah. Dalam kepartaian, menang kalah tetap harus ada evaluasi. Disini kita juga harus melihat khususnya di Sigi yang bisa dikatakan kandang Aminuddin tapi justru kalah. Tim sudah bekerja maksimal,” katanya.
Salah satu kader Golkar Kabupaten Sigi mengatakan, mau tidak mau evaluasi tersebut harus diterima dan itu merupakan tanggung jawab seluruh pimpinan pengurus serta pimpinan legislatif yang ada di kabupaten/kota dan menjadi pembelajaran Partai Golkar kedepan.

Sang Jawara yang Mulai Layu

Wajar jika sosok seperti Ikbal Andi Magga dan Zainal Abidin Ishak merasa penasaran menghadapi kekalahan ini. Pada Pemilihan Legislatif (Pileg) Sulteng tahun 2009 silam, Partai Golkar berhasil memboyong 9 kursi atau 20 persen dari total 45 kursi yang ada di DPRD Sulteng. Dari perolehan itu, total suara yang diraup mencapai 242.130 atau 19,97 persen total pemilih di sulteng (data KPU Sulteng). Ini memposisikan Golkar sebagai partai jawara di rumah legislator jalan Sam Ratulangi Palu itu, berada jauh diatas semua partai yang bertarung kala itu.
Kantong-kantong suara di kabupaten juga cukup fantastis. Perolehan suara di Dapil 1 Kota Palu 27.344. Dapil II (Donggala dan Sigi) meraih 48.817 suara. Dapil III (Parigi Moutong) 33.723 suara. Dapil IV (Poso, Morowali dan Tojo Una-Una) 49.717 suara, dan Dapil V (Tolitoli dan Buol) 48.306 suara serta Dapil VI (Banggai dan Banggai Kepulauan) 34.223 suara.
Jadi, rasa maklum Ikbal Andi Magga atas kekalahan Golkar yang terjadi di empat kabupaten seperti Poso, Tolitoli, Banggai Kepulauan (Bangkep) dan Parigi Moutong, agaknya agak berbanding terbalik dengan data diatas. Di Parigi Moutong, justru Golkar memperoleh suara signifikan dibanding partai milik Longki Djanggola, Gerindra  yang hanya meraup 4.420 suara pada Pileg Sulteng 2009 lalu. Demikian halnya dengan di Tolitoli, Bangkep dan Poso, Golkar jawaranya.
Atas hal itu, Busta Kamindang menegaskan, kekuatan Partai Golkar di daerah-daerah bukan berlandaskan pada pemimpin daerah tersebut, orang Golkar atau bukan. “Hanya Golkar yang memiliki kepengurusan hingga di tingkatan desa. Jadi bukan karena orangnya dulu baru Golkar, tapi dengan adanya Golkar terlebih dahulu baru bisa ada orangnya disitu,” katanya.
Layunya sang beringin sepertinya mulai terlihat. Golkar harus menghadapi banyak lawan yang perlahan merangkak naik. Ada Demokrat, ada PAN, Gerindra dan lainnya. Di Pileg RI tahun 1999, partai ini memperoleh suara 22% suara. Ini merupakan kemerosotan yang jauh sekali dari pada pemilu-pemilu sebelumnya, seperti pemilu 1997 Golkar (belum menjadi partai) memperoleh suara sebanyak 70,2%, sedangkan dalam pemilu-pemilu sebelumnya juga sekitar 60 sampai 70%. Sangat luar biasa lagi pada pemilu tahun 1987, Golkar secara telak, mutlak menguasai 299 kursi di DPR-RI.
Di Pileg terbaru tahun 2009 lalu, Golkar mendapat 107 kursi (19,2%) di DPR RI, hasil dari perolehan suara sebanyak 15.037.757 suara (14,5%). Perolehan ini ternyata menempatkan Golkar di posisi kedua setelah Partai milik SBY, Partai Demokrat. Bagaimana di Tahun 2014 nanti????. (RIFAY)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar